Di tengah perkembangan industri perbankan yang dinamis, kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA) selama paruh pertama tahun 2026 menunjukkan kemajuan yang signifikan. Laba bersih yang tercatat mencapai Rp29,5 triliun, mengalami kenaikan sebesar 1,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendapatan operasional selama periode ini juga mencatat pertumbuhan, mencapai Rp55,8 triliun, tumbuh 2,2% secara tahunan. Namun, pendapatan bunga bersih justru mengalami penurunan sebesar 0,6% menjadi Rp42,4 triliun, sementara pendapatan nonbunga bersih justru meningkat 11% menjadi Rp13,2 triliun.
Melihat angka penyaluran kredit, BCA berhasil menyalurkan kredit mencapai Rp1.036 triliun pada akhir semester I, dengan pertumbuhan sebesar 8%. Hal ini menunjukkan bahwa BCA mampu menopang pertumbuhan kredit meskipun menghadapi tantangan di pasar.
Performa Pertumbuhan Kredit dan Pendanaan BCA
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan bahwa peningkatan kredit didorong oleh kenaikan dana pihak ketiga (DPK). Tercatat, giro dan tabungan (CASA) mengalami pertumbuhan 10,2% menjadi Rp1.082 triliun, sedangkan total DPK meningkat 7,9% menjadi Rp1.284 triliun.
Kinerja yang baik di paruh pertama 2026 juga didukung oleh berbagai inisiatif, termasuk BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif. Hendra menyampaikan bahwa BCA tetap berkomitmen untuk melakukan penyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi.
Kredit produktif yang disalurkan selama periode ini mencapai Rp802 triliun, naik 11% dibandingkan tahun lalu. Kredit korporasi, yang merupakan bagian utama dari portfolio, meningkat 13,6% menjadi Rp513,4 triliun, menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari pelaku bisnis terhadap BCA.
Pembiayaan Hijau dan Fokus pada Sektor Berkelanjutan
Menghadapi tantangan perubahan iklim, BCA juga fokus pada pembiayaan hijau yang mencapai Rp123 triliun, dengan pertumbuhan signifikan sebesar 19%. Pembiayaan untuk sektor energi baru terbarukan meningkat drastis, mencatat angka 82% menjadi Rp7,7 triliun.
Selain itu, dukungan untuk kredit kendaraan bermotor listrik juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan 25% menjadi Rp4 triliun. Hal ini mencerminkan komitmen BCA terhadap keberlanjutan dan inovasi dalam produk keuangan.
Dari sisi kualitas aset, BCA menunjukkan stabilitas yang baik. Rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,9%, sedangkan non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 1,9%, menunjukkan bahwa manajemen risiko BCA cukup efektif dalam mengelola portofolio kreditnya.
Strategi dan Inisiatif BCA untuk Masa Depan
BCA tidak hanya berfokus pada pertumbuhan finansial, tetapi juga berkomitmen untuk menerapkan inisiatif yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Melalui program pemberdayaan masyarakat, BCA berusaha memperkuat hubungan dengan nasabah dan komunitas di sekitarnya.
Inisiatif teknologi juga menjadi bagian penting dari strategi BCA, dengan investasi dalam sistem digitalisasi yang terus ditingkatkan. Dengan demikian, BCA berusaha untuk meningkatkan layanan kepada nasabah dan memperluas jangkauan pasar.
Selain itu, BCA berencana meluncurkan berbagai produk baru yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi BCA di pasar yang semakin kompetitif.









