Surutnya air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, akibat kemarau panjang, telah membuka kembali bekas-bekas pemukiman yang ditinggalkan. Para mantan penghuni kini kembali berdatangan untuk mengenang tempat tinggal mereka yang tenggelam dalam air selama bertahun-tahun.
Di dasar bendungan tersebut, terungkap jejak kehidupan komunitas yang pernah ada. Bangunan-bangunan, meski sebagian hanya tersisa dinding, membuat nostalgia masa lalu kembali hidup di benak warga.
Di antara sisa-sisa tersebut, terlihat pula bangunan masjid yang kini sejajar dengan permukaan tanah. Musim kemarau memberikan kesempatan kepada warga untuk merasakan kembali kenangan yang telah lama terpendam di lokasi yang dahulu menjadi rumah mereka.
Proses Pemindahan Penduduk dan Dampaknya
Pengosongan kampung itu dimulai pada tahun 2023 ketika wilayah tersebut dialihfungsikan menjadi area resapan air. Begitu air mulai mengering, sisa-sisa rumah yang ditinggalkan mulai terlihat kembali, memperlihatkan jejak kehidupan masa lalu.
Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha dari Badan Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian menjelaskan bahwa bangunan tersebut tidak dihancurkan, tetapi hanya dibersihkan dari tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Hal ini menjadikan kondisi di kawasan itu tampak lebih jelas setelah surutnya air.
Saat ini, air di waduk menyusut sekitar 5 persen dari tingkat normal. Meskipun demikian, sisa-sisa bangunan yang dahulu tenggelam dapat terlihat dengan jelas, membawa kembali ingatan ke masa ketika tempat tersebut ramai oleh aktivitas sehari-hari warga.
Kualitas Hidup Warga yang Terdampak
Warga mulai kembali mengunjungi lokasi asal mereka, meskipun beberapa dari mereka telah pindah ke tempat tinggal baru di dekat bendungan. Keterikatan emosional terhadap tanah kelahiran sering kali mendorong mereka untuk mengingat kembali masa-masa indah di kampung yang kini hilang.
Odon, salah seorang warga, berbagi pengalaman dan kenangan when ia mengunjungi lokasi rumahnya yang dahulu. Kenangan akan kampung halamannya terus menghantui para penduduk yang dulunya tinggal di sana, dan kini mereka mencari tempat tinggal baru di sekeliling bendungan.
Dalam beberapa kasus, warga menggunakan rakit untuk menjelajahi area yang dulu menjadi rumah mereka, sebuah kegiatan yang menambah rasa nostalgia dan mengingat kembali kehidupan sehari-hari mereka di masa lalu.
Pertumbuhan Keberlanjutan di Wilayah Bendungan
Dalam tiga tahun terakhir, kampung tersebut telah tenggelam, mirip dengan kisah Atlantis yang hilang. Kini, berkat fenomena kemarau yang ekstrem, bangunan-bangunan tersebut baru pertama kali terlihat jelas oleh masyarakat.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian mengonfirmasi bahwa banyak bangunan sebelumnya hanya terlihat sebagian. Namun, kini sisa-sisa bangunan itu tampak dengan jelas, menunjukkan bahwa masyarakat masih terhubung dengan masa lalu mereka.
Dia juga menekankan bahwa meskipun air waduk telah menurun, pasokan air untuk irigasi di wilayah tersebut masih tercukupi. Kebutuhan air bagi pertanian dan masyarakat sekitar dipastikan tetap aman.









