Kekayaan sepuluh orang terkaya di dunia mengalami penurunan signifikan pada bulan Oktober 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan dari pasar saham teknologi dan kekhawatiran investor terkait meningkatnya pengeluaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
Data terbaru menunjukkan bahwa total kekayaan sepuluh miliarder teratas kini mencapai US$2,8 triliun, mengalami penurunan dari US$3,1 triliun pada bulan sebelumnya. Ini adalah penurunan yang substansial dan mengindikasikan pergeseran dalam ekonomi global.
Delapan dari sepuluh miliarder tersebut mengalami penyusutan kekayaan, termasuk Elon Musk, yang mencatatkan penurunan terbesar. Sementara itu, hanya Steve Ballmer dan Warren Buffett yang berhasil meningkatkan kekayaan mereka meskipun dalam kondisi pasar yang bergejolak.
Performa Kekayaan Orang Terkaya Dunia di Bulan Oktober 2026
Elon Musk tetap berada di posisi teratas dengan kekayaan sebesar US$869 miliar. Namun, hartanya mengalami penurunan sebesar US$68 miliar dalam sebulan akibat merosotnya nilai saham SpaceX, yang merupakan sumber utama kekayaannya.
Kenaikan nilai saham Tesla yang mencapai 13% tidak dapat menutupi kerugian tersebut. Musk, yang juga pendiri Tesla, harus menghadapi tantangan besar di tengah fluktuasi pasar yang tidak menentu.
Jeff Bezos menempati posisi kedua dengan kekayaan sekitar Rp6.534,1 triliun. Saham Amazon yang melemah 4% menyebabkan harta Bezos berkurang US$8 miliar, menunjukkan betapa volatilnya pasar e-commerce saat ini.
Berdasarkan data yang ada, Larry Page, salah satu pendiri Google, kini memiliki kekayaan sebesar Rp4.217,3 triliun. Kekayaannya mengalami penurunan drastis sebesar US$53 miliar setelah saham Alphabet, induk perusahaan Google, merosot lebih dari 18%.
Michael Dell, pendiri Dell Technologies, kini menempati posisi keempat dengan kekayaan sekitar Rp4.144,9 triliun. Saham perusahaannya mengalami penurunan harga sebesar 21%, yang berkontribusi pada penyusutan kekayaannya sebanyak US$40 miliar.
Profil Lima Billionaire Terkaya dan Penyusutan Kekayaan Mereka
Sergey Brin, yang merupakan rekan Larry Page dalam mendirikan Google, memiliki kekayaan sekitar Rp3.873,4 triliun. Kejatuhan saham Alphabet juga mempengaruhi kekayaannya, yang turun sebesar US$49 miliar.
Mark Zuckerberg, pendiri Meta (yang mengelola Facebook, Instagram, dan WhatsApp), berada di urutan keenam dengan total kekayaan sekitar Rp3.819,1 triliun. Hartanya berkurang US$40 miliar akibat penurunan nilai saham Meta hingga 15%.
Jensen Huang, CEO Nvidia, kini memiliki kekayaan sekitar Rp3.221,8 triliun. Saham perusahaannya turun US$22 miliar dalam sebulan, menunjukkan dampak langsung dari pengurangan permintaan dalam industri semikonduktor.
Larry Ellison, pendiri Oracle, berada di posisi kedelapan dengan kekayaan total Rp3.113,2 triliun. Meskipun mengalami penurunan US$8 miliar, dia tetap aktif dalam berbagai proyek teknologi dan media.
Steve Ballmer menjadi salah satu dari sedikit miliarder yang mengalami kenaikan kekayaan, mencapai Rp2.932,2 triliun. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan 2% harga saham Microsoft, yang menunjukkan keberhasilan terhadap investasinya di sektor teknologi.
Dampak Kenaikan dan Penurunan Saham Terhadap Kekayaan Para Miliarder
Warren Buffett, investor legendaris, menutup daftar sepuluh teratas dengan kekayaan sekitar Rp2.787,4 triliun. Berbeda dengan miliarder lainnya, kerugian Buffett justru berkurang berkat kenaikan 9% saham Berkshire Hathaway yang ia kelola.
Ini menunjukkan bahwa meskipun banyak miliarder mengalami kerugian, strategi investasi jangka panjang Buffett membuahkan hasil. Sementara itu, pergeseran ini memunculkan diskusi lebih dalam tentang stabilitas sektor teknologi di masa mendatang.
Saham teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai jaminan kini mulai menunjukkan gejala ketidakpastian. Dalam konteks ini, investor mulai memikirkan kembali strategi investasi mereka, terutama dalam menghadapi perkembangan AI yang cepat.
Penurunan yang dialami oleh para miliarder ini juga membawa pelajaran berharga bagi investor lainnya. Memiliki pengetahuan akan dinamika pasar dan kebijakan terbaru sangat penting untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Secara keseluruhan, fluktuasi kekayaan di kalangan miliarder ini menggambarkan kompleksitas ekosistem investasi saat ini dan pentingnya diversifikasi dalam portofolio investasi.









