Sebuah perjalanan hidup sering kali penuh dengan liku-liku yang tak terduga. Dari seorang anak yang membantu ibunya menjaga toko kelontong kecil, Djoko Susanto kini dikenal sebagai pendiri Alfamart, yang telah berkembang dengan pesat di seluruh Indonesia, memiliki puluhan ribu gerai. Perjalanan ini menampilkan bagaimana kerja keras dan ketekunan dapat mengubah nasib seseorang secara signifikan.
Djoko, yang lahir dengan nama Kwok Kwie Fo, memulai karirnya tidak dalam dunia bisnis, melainkan sebagai pegawai di sebuah perusahaan perakitan radio. Namun, pada tahun 1996, ia memutuskan untuk kembali membantu ibunya menjalankan usaha warung kelontong keluarga, yang menjadi langkah awalnya dalam memahami bisnis ritel.
Keputusan untuk terjun kembali ke usaha keluarga membawanya ke dalam pengalaman yang berharga. Melalui warung kelontong yang dikelola ibunya, Djoko mulai belajar tentang seluk-beluk bisnis, mulai dari melayani pelanggan hingga mengelola stok barang. Ia menghabiskan banyak waktu menjaga toko, yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari seperti kacang tanah dan minyak sayur.
Awal Usaha yang Menjanjikan dalam Bisnis Rokok
Pada awalnya, usaha Djoko berfokus pada penjualan rokok, yang ternyata memberikan hasil yang menjanjikan. Pada tahun 1987, ia berhasil membuka 15 jaringan toko grosir dan menjadi penjual rokok terbesar dari Gudang Garam. Kesuksesannya menarik perhatian beberapa petinggi industri rokok, termasuk Putera Sampoerna dari PT HM Sampoerna.
Pertemuannya dengan Putera Sampoerna pada akhir tahun 1986 menjadi momen penting dalam karirnya. Ia diangkat menjadi direktur penjualan di PT Sampoerna, yang menjadikan perusahaan tersebut salah satu yang terkemuka di Indonesia, berada di posisi kedua setelah Gudang Garam. Ini adalah langkah awal bagi Djoko untuk mengembangkan potensi bisnisnya lebih lanjut.
Keahliannya dalam memasarkan produk rokok membawanya ke posisi penting sebagai direktur di PT Panarmas. Di sana, ia ikut memasarkan rokok baru bernama Sampoerna A Mild, yang kelak menjadi salah satu merek paling terkenal di Indonesia. Dengan pengalaman ini, Djoko mulai membangun fondasi untuk karir bisnisnya yang lebih besar.
Mendirikan Toko Pertama dan Perkembangannya
Di tahun 1989, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo setelah mengubah gudang Sampoerna menjadi Toko Gudang Rabat. Dengan modal sebesar Rp 2 miliar, ia berhasil mengubah gudang tersebut menjadi toko grosir yang beroperasi di pasar. Dalam kerja sama dengan Putera Sampoerna, Djoko memegang 60% saham di perusahaan tersebut.
Toko Gudang Rabat menjadi cikal bakal dari retails yang kita kenal saat ini. Meskipun awalnya beroperasi sebagai distributor rokok, seiring berjalannya waktu, toko ini mulai menjual berbagai produk lainnya, yang memperluas jangkauan pasarnya dan meningkatkan pendapatan. Djoko terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Seiring dengan pesatnya perkembangan usaha, Toko Gudang Rabat berkembang menjadi jaringan toko kelontong. Pada tahun 1990-an, mereka telah memiliki 32 gerai di berbagai kota, bersaing langsung dengan Indomaret. Strategi yang tepat dalam memahami pasar dan kebutuhan konsumen telah menjamin keberlangsungan dan pertumbuhan usaha Djoko.
Transformasi Menjadi Alfamart dan Kesuksesannya
Pada tahun 1999, Toko Gudang Rabat resmi berganti nama menjadi Alfa Minimart, dan ini menandai langkah penting menuju pengembangan yang lebih besar. Alfamart diperkenalkan sebagai minimarket yang dekat dengan masyarakat, dengan bangunan pertamanya terletak di Jl. Beringin Raya, Tangerang. Ini adalah langkah strategis untuk menarik lebih banyak konsumen.
Kehadiran Alfa Minimart langsung disambut positif oleh masyarakat. Penjualannya terus meningkat, dan pada tahun 2000, Alfa dinyatakan go public. Nilai kapitalisasi pasar saat itu mencapai lebih dari US$ 108,29 juta, sebuah pencapaian yang menandai kesuksesan Djoko dalam dunia bisnis ritel.
Sejak tahun 2003, Alfa Minimart resmi berganti nama menjadi Alfamart, dan dengan suntikan modal dari Putera Sampoerna, jaringan ini terus berkembang. Saat ini, Alfamart telah memiliki lebih dari 23.000 gerai di seluruh Indonesia, termasuk cabang dari anak usaha seperti Alfamidi dan Lawson.
Djoko Susanto kini tidak hanya menjadi ikon dalam bisnis ritel, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana ketekunan dan keberanian mengambil risiko dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Perjalanan hidupnya adalah inspirasi bagi banyak orang yang bercita-cita dalam dunia bisnis. Melalui strategi pemasaran yang cerdas dan pemahaman mendalam tentang pasar, Djoko berhasil membangun salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, dari memulai dari nol hingga mencapai kesuksesan yang luar biasa, cerita Djoko Susanto mengajarkan kita tentang arti sesungguhnya dari kerja keras dan inovasi. Dengan semangat pantang menyerahnya, ia telah membuktikan bahwa siapa pun dapat mengubah mimpinya menjadi kenyataan.









