Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan rencananya untuk berdiskusi mengenai rumah peninggalan Prof. Dr. Sardjito, pahlawan nasional dan rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM). Rumah ini akan dijual oleh ahli warisnya, dan Hasto berencana melakukan pertemuan dengan Rektor UGM, Ova Emilia, serta keluarga ahli waris untuk membahas pentingnya pelestarian warisan budaya ini.
Rumah yang terletak di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, menyimpan nilai historis yang signifikan. Hasto menjelaskan bahwa perlu adanya diskusi yang mendalam, mengingat keadaan bangunan tersebut dan potensi pemanfaatannya untuk publik.
“Dalam waktu dekat ini, saya akan bertemu dengan keluarganya untuk mendalami hal ini,” kata Hasto ketika dihubungi. Hal ini menunjukkan keseriusannya dalam menjaga jejak sejarah dan budaya kota.
Pentingnya Pelestarian Rumah Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Rumah warisan Sardjito merupakan simbol dari sejarah panjang pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta. Dengan gaya arsitektur Indische, rumah ini mengingatkan kita pada perjalanan sejarah yang perlu dilestarikan untuk generasi mendatang. Masyarakat sangat berharap rumah ini tidak sekadar dijual menjadi properti pribadi yang kehilangan makna.
Hasto menegaskan bahwa pemerintah, UGM, maupun RSUP dr. Sardjito sebaiknya mengambil inisiatif untuk mengakuisisi rumah tersebut. “Rumah ini berharga dan memiliki nilai historis yang patut diperjuangkan,” tambah Hasto.
Kerabat Sardjito, Budhi Susanto, juga merasa khawatir mengenai kemungkinan rumah tersebut jatuh ke tangan swasta. Ia berharap agar UGM atau UII dapat terbuka untuk proposal pembelian, sehingga rumah ini dapat berfungsi sebagai museum atau tempat yang bermanfaat bagi masyarakat.
Keberadaan Rumah dalam Konteks Pendidikan
Sejarah menunjukkan bahwa Sardjito bukan hanya seorang pahlawan nasional, tetapi juga seorang pendidik yang berkontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Rumah ini menjadi saksi bisu dari perjalanan hidupnya, dan seharusnya dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda. Dengan dijadikannya rumah ini sebagai museum, pengunjung dapat belajar lebih banyak tentang peran penting Sardjito dalam pendidikan.
Budhi Susanto berharap agar UGM atau UII dapat melanjutkan fungsi rumah tersebut sebagai tempat bersejarah. “Rumah ini sebaiknya kembali difungsikan sebagai rumah dinas rektor atau museum yang mengisahkan perjalanan hidup Sardjito,” ungkap Budhi.
Ia merasa bahwa jika rumah ini diakuisisi dengan baik, maka merupakan langkah positif bagi pelestarian sejarah pendidikan di Yogyakarta. “Inisiatif ini bisa melibatkan mahasiswa dalam proses pelelajaran sejarah,” imbuh Budhi.
Langkah-Langkah yang Dapat Diambil untuk Pelestarian
Hasto Wardoyo menegaskan bahwa Pemkot Yogyakarta sebenarnya juga memiliki potensi untuk ikut berperan dalam pelestarian bangunan bersejarah ini. Salah satunya adalah dengan mengajukan dana keistimewaan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Namun, hal ini membutuhkan proses yang harus diikuti dengan teliti.
Di tengah diskusi mengenai akuisisi, Hasto juga memiliki kekhawatiran mengenai kemampuan anggaran Pemerintah Kota. “Kami perlu melakukan evaluasi keuangan sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Diskusi ke depan harus melibatkan banyak pemangku kepentingan,” jelasnya.
Tanpa adanya dukungan yang cukup dari berbagai pihak, langkah pelestarian ini bisa menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama demi menjaga keberadaan rumah bersejarah ini.









