Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, bersama dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, meluncurkan Program Gentengisasi dengan mengirimkan 125 truk berisi 500 ribu keping genteng. Kegiatan ini dilaksanakan di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, untuk mendukung inisiatif yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pelepasan truk-truk ini ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih dan pemecahan kendi sebagai simbol peluncuran program. Mendagri Tito menyampaikan bahwa tujuan besar dari Program Gentengisasi ini adalah meningkatkan jumlah rumah yang menggunakan genteng, yang saat ini baru sekitar 57 persen.
Sementara itu, banyak rumah yang masih menggunakan material alternatif seperti seng dan asbes. Hal ini mencerminkan tantangan dalam mendorong perubahan ke arah penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan dan nyaman, seperti genteng tanah liat, yang sejatinya adalah bagian dari budaya arsitektur Indonesia.
Keunggulan Genteng sebagai Material Penutup Atap
Tito menggarisbawahi berbagai keunggulan genteng yang menjadikannya pilihan ideal untuk penutup atap rumah. Salah satu keunggulan utama adalah kemampuan genteng dalam menahan panas dan mengurangi kebisingan saat hujan, memberikan kenyamanan bagi penghuni rumah.
Kami juga bisa melihat bahwa penggunaan genteng sejalan dengan pemikiran tentang lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Genteng tanah liat dipandang sebagai elemen penting dalam menciptakan suasana nyaman dan memberikan kontribusi estetika pada desain bangunan.
Menurut Mendagri, Bapak Presiden menginginkan agar setiap rumah yang dibangun di Indonesia dilengkapi dengan genteng. “Ini adalah langkah untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” jelas Tito.
Peluang Ekonomi melalui Program Gentengisasi
Program Gentengisasi diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi lokal dengan meningkatkan permintaan terhadap produk genteng, terutama dari daerah penghasil utama. Jawa Barat, yang merupakan salah satu pusat produksi terbesar dalam industri genteng, memiliki sekitar 87 persen rumah yang telah menggunakan genteng.
Terlebih lagi, sekitar 13 persen rumah di daerah Jawa Barat belum menggunakan genteng, memberikan peluang besar untuk ekspansi pasar. Dengan mendorong penggunaan genteng, tidak hanya industri genteng yang akan berkembang, tetapi juga sektor transportasi yang mengatur distribusi barang.
Mendagri Tito meyakini bahwa program ini memiliki dampak positif yang luas bagi perekonomian masyarakat setempat, baik untuk produsen, distributor, hingga konsumen yang dapat memperoleh kualitas hunian yang lebih baik.
Dukungan Kebijakan untuk Mendorong Penggunaan Genteng
Dukungan dari para menteri dan kebijakan pemerintah sangat penting untuk memperlancar implementasi Program Gentengisasi. Melalui dukungan ini, para pengembang didorong untuk menggunakan genteng tanah liat pada berbagai proyek pembangunan rumah subsidi dan program perbaikan rumah.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali sentra-sentra produksi genteng di daerah-daerah seperti Purwakarta, Majalengka, dan Kebumen. Tito mengucapkan terima kasih kepada Menteri PKP yang telah bekerja keras untuk mendorong penggunaan genteng di kalangan pengembang.
Banyak pejabat daerah juga hadir mendukung acara ini, menegaskan komitmen untuk memajukan Program Gentengisasi secara efektif dan menyeluruh di seluruh Jawa Barat.









