Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan soal langkah Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mengembalikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, pengembalian tersebut berkaitan dengan anggaran tambahan sebesar Rp100 triliun yang diajukan namun belum dicairkan oleh Kementerian Keuangan.
“Yang saya tahu, BGN mengembalikan Rp100 triliun dari anggaran yang sempat diminta, tetapi uang tersebut belum dianggarkan secara resmi,” ungkap Purbaya saat memberikan keterangan di kantor Kemenkeu. Sementara itu, ia juga menyoroti anggaran sebesar Rp71 triliun yang telah dialokasikan dan dipegang oleh BGN untuk program tersebut.
Purbaya menekankan pentingnya pemantauan terhadap penyerapan anggaran Rp71 triliun tersebut. “Kita perlu memastikan anggaran ini mampu terserap dengan optimal sampai akhir tahun,” kata Purbaya. Ia menambahkan bahwa saat ini penyerapan anggaran baru mencapai 23 persen, dan ia berharap hal ini dapat meningkat seiring berjalannya waktu.
Perincian Anggaran BGN dan Implikasinya untuk Program Makan Bergizi
Menurut Kepala BGN, Danan Hindayana, alokasi anggaran untuk program MBG tahun ini telah ditetapkan sebesar Rp71 triliun. Namun, dari angka tersebut, hanya Rp99 triliun yang dapat diserap, sedangkan Rp70 triliun terpaksa harus dikembalikan kepada Presiden karena tidak dapat digunakan tahun ini.
“Sukarelawan dari BGN tengah berupaya maksimal agar penggunaan anggaran ini efisien dan tepat sasaran,” tambah Danan. Dengan adanya tantangan ini, BGN dihadapakan pada tugas berat untuk menarik perhatian dan kepercayaan masyarakat saat menjalankan programnya.
Tahun depan, diperkirakan alokasi anggaran untuk BGN akan meningkat tajam menjadi Rp268 triliun. Hal ini menandakan tujuan pemerintah untuk memperkuat program gizi nasional demi kesejahteraan rakyat, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Bersama peningkatan anggaran, pemerintah juga menyiapkan dana cadangan sebanyak Rp67 triliun. Total dukungan untuk program MBG tahun 2026 mencapai Rp335 triliun, angka yang cukup signifikan dalam konteks penanggulangan masalah gizi di Indonesia.
Dampak Program Makan Bergizi terhadap Masyarakat
Badan Gizi Nasional berfokus pada penyaluran bantuan kepada 82,9 juta orang di seluruh Indonesia. Setiap hari, dana sebesar Rp1,2 triliun akan disalurkan untuk program ini, sebuah komitmen yang mencerminkan pentingnya gizi bagi masyarakat.
“Bagi kementerian lain, dana tersebut mungkin setara anggaran satu tahun, tetapi kami menganggap itu sebagai kebutuhan sehari-hari,” jelas Dadan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pemerintah menganggap serius isu gizi, utamanya untuk kelompok rentan.
Program Makan Bergizi dirancang untuk memberi akses terhadap nutrisi yang cukup bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Intervensi yang tepat di lini ini diharapkan dapat mengurangi masalah stunting dan malnutrisi di Indonesia.
Melalui pengawasan dan pelaksanaan yang efektif, diharapkan program ini berdampak signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup banyak orang. “Kami terus memantau agar dana benar-benar sampai pada mereka yang membutuhkan,” imbuh Dadan.
Pemantauan dan Evaluasi Penyerapan Anggaran
Purbaya juga menekankan pentingnya pemantauan penyerapan dan penggunaan anggaran secara berkelanjutan. “Kita harus melihat sejauh mana dana yang telah dianggarkan benar-benar dapat diserap dan dimanfaatkan dengan baik,” ujar Purbaya.
Dia mencatat bahwa evaluasi berkala perlu dilakukan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Dengan evaluasi yang cermat, diharapkan bisa mengatasi kendala yang dihadapi dalam penyerapan anggaran BGN.
Adanya sistem pelaporan yang jelas dan terencana juga akan membantu dalam proses pengawasan. “Kami ingin memastikan tidak ada anggaran yang sia-sia dan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” tandasnya.
Ke depan, upaya ini diharapkan memberikan peluang bagi BGN untuk belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, sehingga mampu meningkatkan kinerja dan daya serap anggaran di tahun-tahun mendatang.
Seluruh langkah yang diambil merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperbaiki kesehatan dan gizi masyarakat. Dengan keterlibatan semua pihak, pencapaian tujuan ini bisa menjadi lebih nyata.




