Baru-baru ini, suasana duka mengguncang Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ratusan mahasiswa dan civitas akademika yang mengidentifikasikan diri sebagai Ksatria Airlangga, melangsungkan aksi simbolik untuk menghormati lima individu yang kehilangan nyawa saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Tragedi ini menyebabkan munculnya berbagai reaksi dan tuntutan dari kalangan mahasiswa untuk memunculkan keadilan.
Kelima korban malang tersebut adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Secara mengejutkan, Anisa Muyassaroh merupakan alumni Unair sendiri, menjadikannya pelanggaran mendalam bagi keluarga besar universitas tersebut.
Pada malam aksi yang diadakan di Amphitheater Unair B, mahasiswa terlihat menyalakan lilin dan menaburkan bunga di area yang telah disiapkan. Rangkaian kegiatan itu juga meliputi pembacaan puisi, teatrikal, dan orasi, yang menjadi platform bagi mahasiswa untuk menyuarakan rasa duka sekaligus mengecam kejadian tersebut.
Rangkaian Aksi yang Mengharukan dan Penuh Makna
Salah satu penampil dalam aksi tersebut menyampaikan ungkapan haru melalui puisi yang menggugah hati. “Kepada kakak kami yang telah pergi, maafkan kami, karena kami tidak bisa mengembalikan detak jantungmu,” katanya. Bahasa yang digunakan dalam puisi tersebut jelas menunjukkan kesedihan yang mendalam dan kerinduan yang tak terhingga.
Tidak hanya puisi, mahasiswa juga melaksanakan ritual penaburan bunga sembari membacakan doa dalam bahasa Jawa Krama. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terakhir bagi mereka yang telah tiada, menunjukkan betapa besar rasa solidaritas di antara mahasiswa.
Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unair, Shintya Iftitah, menegaskan bahwa aksi tersebut lahir dari keresahan mendalam yang dirasakan oleh mahasiswa. “Kami sekeluarga besar Universitas Airlangga berdukacita atas kehilangan salah satu saudari kami, Mbak Anisa Muyassaroh, dan empat rekan lainnya,” ujarnya. Keresahan ini tak hanya berfokus pada duka, tetapi juga pada pencarian keadilan.
Tuntutan Mahasiswa untuk Transparansi dan Keberlanjutan
Aksi simbolik ini tidak hanya diam-diam, seiring dengan rasa duka, mahasiswa juga mengungkapkan sejumlah tuntutan. Pertama, mereka menuntut pemerintah untuk transparan mengenai kronologi dan penyebab kecelakaan yang menimpa lima orang tersebut. “Kami ingin tahu mengapa tragedi ini bisa terjadi,” ungkap Shintya.
Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan peran Kementerian Pertahanan dalam pelatihan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Koperasi. “Mengapa kementerian lain terlibat dalam program ini? Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?” tanya Shintya, menunjukkan ketidakpuasan terhadap kurangnya informasi dan kejelasan.
Mahasiswa juga mendesak agar dilakukan investigasi independen oleh pihak yang tidak terikat dengan lembaga penyelenggara Latsarmil. Dalam konteks ini, ada kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana pelatihan tersebut dapat berjalan tanpa mematuhi standar keselamatan yang memadai.
Reaksi dari Pihak Berwenang dan Keputusan Selanjutnya
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan, akhirnya merespon insiden tragis ini. Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk memangkas durasi pelatihan setelah kejadian tersebut. “Kami melakukan evaluasi dan merevisi program ini menjadi pelatihan bela negara,” tuturnya.
Revisi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pendekatan pelatihan. Donny mengungkapkan bahwa peserta tidak lagi dilatih dengan materi yang berkaitan dengan senjata atau taktik militer, melainkan lebih berfokus pada pendidikan dan disiplin.
Keputusan tersebut merupakan langkah awal, tetapi tentu banyak yang berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap program dan pelaksanaannya, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang menjadi sorotan. Shintya menambahkan bahwa evaluasi penting untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Refleksi atas Tragedi dan Komitmen ke Depan
Aksi yang diadakan di Unair ini bukan hanya tentang duka, tetapi juga tentang komitmen untuk membangun kesadaran. Mahasiswa bertekad untuk tidak hanya mengenang yang telah meninggal, tetapi juga berjuang untuk keadilan dan transparansi di masa mendatang. “Kami ingin agar suara kami didengar, dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegas Shintya.
Momen-momen dalam aksi tersebut adalah pengingat akan tanggung jawab bersama—bagi pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan generasi muda. Ini adalah panggilan untuk kolaborasi dan pemahaman agar tragedi semacam ini tidak terulang.
Dari tragedi ini, diharapkan muncul pelajaran berharga yang dapat membawa perubahan positif di lingkungan kampus dan sekitarnya. Upaya mahasiswa untuk berbicara dan berdiri bersama dalam duka harus menjadi pendorong untuk perubahan yang lebih besar dan berkelanjutan di tingkat kebijakan.









