Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 telah mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni. Kejadian ini menyebabkan dampak yang signifikan di sejumlah daerah, dengan 33 desa mengalami kerusakan yang parah.
Hasil laporan BNPB menunjukkan bahwa dari total 33 desa yang terkena dampak, hampir sebagian besar ada di Kabupaten Sigi, di mana tujuh kecamatan dan 30 desa terpengaruh. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan kondisi yang lebih buruk jika tidak segera ditangani.
Dari data yang ada, 1.834 kepala keluarga, atau sekitar 5.784 jiwa, telah terdampak akibat kejadian ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan rincian lebih lanjut mengenai korban dan kerusakan.
Penjelasan Mengenai Gempa yang Terjadi di Sulawesi Tengah
Gempa berpusat di Kabupaten Parigi Moutong dan terjadi pada pukul 10.27 WITA. Korban jiwa dilaporkan satu orang meninggal, 73 lainnya mengalami luka ringan, dan tiga orang mengalami luka berat.
BMKG menjelaskan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas Sesar Sausu. Hal ini berbeda dengan peristiwa gempa yang merusak pada tahun 2018, yang didorong oleh Sesar Palu-Koro dan menyebabkan likuifaksi yang parah.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengonfirmasi bahwa sebaran frekuensi gempa saat ini mulai menurun, meskipun masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.
Jumlah Bangunan yang Terkena Dampak Akibat Gempa
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebanyak 847 bangunan mengalami kerusakan akibat gempa, termasuk rumah dan fasilitas umum. Sebagian besar kerusakan terjadi di Kabupaten Sigi, yang meliputi sekitar 800 rumah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi Sembiring, mengkonfirmasi bahwa 720 bangunan rusak ringan, 68 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan ini berdampak pada 2 kantor, 15 sarana ibadah, dan satu jembatan yang menghubungkan dua desa.
Melihat kerusakan yang cukup parah ini, upaya penanganan di lapangan harus segera dilakukan agar masyarakat dapat kembali melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan aman.
Upaya Penanganan dan Pemulihan Bencana
Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah dikerahkan untuk melakukan asesmen dan koordinasi di lapangan. Langkah cepat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan bagi para warga yang terdampak.
BPBD juga menyerukan kepada masyarakat untuk tetap waspada serta bersiap menghadapi kemungkinan gempa susulan. Dengan situasi seperti ini, kepentingan keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada masyarakat melalui bantuan sementara dan proses rehabilitasi infrastruktur yang rusak. Upaya ini sangat penting untuk mencegah permasalahan sosial yang lebih besar di masa depan.








