Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia menghadapi inflasi sebesar 2,92 persen tahunan per Desember 2025. Kenaikan ini mencerminkan perubahan dalam indeks harga konsumen yang meningkat dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 109,92 pada Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa secara bulanan, inflasi mencapai 0,64 persen. Inflasi ini juga tercatat sebesar 2,92 persen dalam tahun kalender, menandakan adanya tren kenaikan harga yang berkelanjutan.
Kelompok pengeluaran yang paling berkontribusi terhadap inflasi bulanan berasal dari sektor makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi mencapai 1,66 persen. Andil inflasi dari sektor ini berkontribusi sebesar 0,48 persen terhadap total inflasi yang tercatat.
Analisis Inflasi Bulanan dan Tahunan di Indonesia
Menjelaskan lebih lanjut, Pudji menyebutkan bahwa komoditas utama yang menyebabkan inflasi dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama adalah cabai rawit. Cabai rawit berkontribusi sebesar 0,17 persen terhadap inflasi bulanan, menunjukkan dampak harga yang signifikan bagi konsumen.
Selanjutnya, daging ayam ras menjadi penyumbang andil inflasi sebesar 0,09 persen. Selain itu, bawang merah, ikan segar, dan telur ayam ras juga memberikan andil yang cukup besar, menunjukkan bahwa kebutuhan pokok ikut berkontribusi pada angka inflasi.
BPS melaporkan bahwa semua 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi bulanan. Provinsi Aceh mengalami inflasi tertinggi dengan angka 3,06 persen, sementara Maluku Utara tercatat sebagai provinsi dengan inflasi terendah, yakni hanya 0,05 persen.
Penyebab Inflasi Utama yang Perlu Diperhatikan
Inflasi tahunan yang melanda Indonesia banyak dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi untuk kategori ini mencapai 4,58 persen dengan kontribusi sebesar 1,33 persen terhadap total inflasi. Komoditas yang memiliki andil terbesar dalam kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, beras, dan daging ayam ras.
Sementara itu, beberapa komoditas di luar kelompok makanan juga memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi. Salah satu yang paling mencolok adalah emas perhiasan, yang menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terbatas pada kebutuhan pokok tetapi juga pada barang investasi.
Pudji menyatakan bahwa pemantauan terus-menerus terhadap laju inflasi sangat penting untuk memahami kondisi ekonomi. Pemerintah diharapkan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi inflasi yang mengganggu daya beli masyarakat.
Implikasi Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat
Kenaikan inflasi meningkatkan kekhawatiran tentang daya beli masyarakat. Masyarakat mungkin merasakan dampak langsung dari inflasi, terutama bagi mereka yang tergantung pada makanan pokok, yang terus mengalami kenaikan harga. Penyesuaian anggaran rumah tangga menjadi sangat diperlukan untuk mencukupi kebutuhan dasar.
Penting bagi pemerintah dan pengambil kebijakan untuk menemukan solusi efektif guna menanggulangi kenaikan harga. Ini termasuk intervensi pasar yang tepat dan strategi untuk memastikan pasokan barang tetap stabil.
Melihat data dan tren yang ada, penting bagi masyarakat untuk melakukan perencanaan keuangan yang matang. Dengan mengetahui komoditas yang mengalami inflasi tertinggi, masyarakat dapat menyesuaikan pola belanja mereka agar tidak terlalu terbebani oleh kenaikan harga.




