PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, yang dikenal sebagai BTN, berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang signifikan, mencapai angka dua digit. Pertumbuhan ini didorong oleh aliran dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp25 triliun, yang memperkuat posisi likuiditas bank di kuartal IV 2025.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa dukungan pemerintah dalam bentuk likuiditas sangat berpengaruh terhadap pengurangan biaya dana serta mendorong penyaluran kredit sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pendirian likuiditas yang kuat memungkinkan BTN untuk memberikan lebih banyak pinjaman kepada masyarakat, khususnya dalam sektor perumahan. Hal ini sangat penting bagi pengembangan infrastruktur dan kebutuhan dignitas masyarakat Indonesia.
Peran Penting Likuiditas dalam Pertumbuhan Ekonomi
Likuiditas yang diciptakan dari dana SAL sangat membantu dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan pembiayaan perumahan lainnya. Dengan adanya dana tersebut, BTN dapat menjamin bahwa kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah dapat terpenuhi dengan lebih mudah.
Saat berbicara dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Nixon menekankan bahwa Dana SAL yang ada benar-benar digunakan untuk kredit dan tidak disia-siakan. Ini menjadi contoh konkret bagaimana likuiditas dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Penggunaan dana yang efektif ini telah mengakibatkan BTN mampu mencatat pertumbuhan kredit hampir 12 persen di akhir tahun 2025. Selain itu, pertumbuhan aset perusahaan mencapai 12,7 persen.
Pertumbuhan yang signifikan ini mengindikasikan bahwa BTN telah berhasil menjalankan fungsi intermediasi yang seimbang. Kemampuan untuk menghimpun dana dari masyarakat juga menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap BTN sebagai lembaga keuangan.
Dengan meningkatnya kepercayaan tersebut, BTN menghadirkan beberapa solusi keuangan yang lebih inklusif untuk keluarga di seluruh Indonesia, menjadikan mereka bagian dari sistem ekonomi formal.
Perbaikan Kinerja Keuangan dan Profitabilitas BTN
Seiring dengan meningkatnya likuiditas, kinerja profitabilitas BTN juga memperlihatkan tanda-tanda yang baik. Nixon mengungkapkan bahwa laba bersih perseroan mengalami peningkatan hingga 16,8 persen, bahkan mendekati 18 persen di akhir tahun ini.
Total pendapatan BTN juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai 18 persen. Hal ini menjadi pertanda baik bagi masa depan perusahaan di tengah tantangan ekonomi yang ada.
Tahun sebelumnya, yakni 2024, menjadi masa yang cukup berat bagi BTN karena dampak restrukturisasi kredit akibat pandemi Covid-19. Namun, angka-angka kinerja yang positif di 2025 menunjukkan bahwa BTN telah berhasil bangkit dan kembali ke jalur pertumbuhan yang stabil.
Satu aspek penting dalam kinerja keuangan BTN adalah penguatan modal. Melalui penerbitan tambahan modal, BTN dapat meningkatkan rasio kecukupan modal, yang memberikan kebebasan lebih dalam memperluas bisnis dan inovasi produk.
Pencapaian keuntungan di tahun ini mencerminkan upaya nyata BTN dalam mengelola risiko dan memanfaatkan peluang yang ada di pasar. Hal ini menunjukkan bahwa BTN tidak hanya fokus pada profit, namun juga pada keseimbangan dalam setiap aspek operasionalnya.
Tren Kredit dan Pengelolaan Risiko di BTN
Peningkatan dalam jumlah kredit juga disertai dengan perhatian yang lebih besar terhadap kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada BTN menurun hingga 3,08 persen. Ini adalah indikator bahwa BTN berhasil menjaga kualitas kreditnya dalam kondisi pasar yang menantang.
Bersamaan dengan itu, rasio biaya terhadap pendapatan juga menunjukkan perbaikan, menjadi 47 persen. Hal ini mencerminkan efisiensi operasional BTN dalam mengelola biaya sambil tetap fokus pada pertumbuhan.
Dukungan dari pemerintah dalam penempatan dana di perbankan berperan penting untuk menjaga stabilitas pasar. Dengan penempatan yang mencapai Rp276 triliun di perbankan umum, BTN mendapatkan kesempatan untuk memperluas jangkauan kreditnya dengan lebih optimal.
Pemerintah memberi keleluasaan kepada bank untuk menggunakan dana tersebut guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, bank juga diingatkan untuk tidak menggunakan dana tersebut dalam bentuk investasi surat utang negara, melainkan untuk kepentingan masyarakat.
Pengelolaan risiko yang hati-hati dalam aspek kredit dan likuiditas menjadi kunci bagi BTN agar tetap dapat bersaing di pasar yang semakin ketat. Dalam masa depan, BTN terus berkomitmen untuk menghadirkan inovasi yang memberi nilai lebih bagi masyarakat.




