PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, atau BTN, baru-baru ini meluncurkan skema baru kredit perumahan yang ditujukan khusus untuk kalangan wiraswasta. Langkah ini bertujuan untuk memperluas akses bagi pelaku usaha yang selama ini kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan perumahan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa skema baru ini dikenal sebagai Kredit Program Perumahan (KPP), menggantikan nama sebelumnya yang berbunyi KUR Perumahan. Inisiatif ini dihadirkan untuk memberikan solusi bagi wiraswasta untuk memiliki rumah dengan lebih mudah.
Program ini dirancang sebagai jalan alternatif bagi wiraswasta yang selama ini perannya dalam pembiayaan perumahan dianggap relatif kecil, terutama dalam konteks Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dengan KPP, BTN memberikan dukungan yang lebih khusus bagi segmen ini.
Strategi KPP untuk Meningkatkan Akses Kepemilikan Rumah
KPP hadir untuk mengatasi masalah pemisahan jalur pembiayaan antara kelompok wiraswasta dan pegawai dengan penghasilan tetap. Nixon menyatakan bahwa skema ini dirancang agar pelaku usaha tidak bersaing dalam paket pembiayaan yang sama.
Lewat KPP, wiraswasta dapat memperoleh pembiayaan hingga Rp500 juta dalam bentuk KUR perumahan. Dengan demikian, BTN berusaha menciptakan solusi yang lebih spesifik untuk kebutuhan kalangan pelaku usaha tersebut.
Selain itu, KPP juga menyasar pengembang kecil dengan plafon hingga Rp5 miliar, yang dapat diarahkan ke beberapa proyek, sehingga total nilai pembiayaan bisa mencapai Rp20 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa BTN berusaha memberi peluang yang lebih luas di sektor pembiayaan.
Perbedaan Kebutuhan Hunian antara Wiraswasta dan Pekerja Formal
Bagi wiraswasta, kebutuhan hunian seringkali berbeda, di mana rumah juga berfungsi sebagai tempat usaha atau gudang. Konsep rumah bagi pelaku usaha cenderung menggabungkan fungsi hunian dan aktivitas bisnis, yang membuat skema perumahan konvensional tidak selalu cocok.
Nixon menjelaskan bahwa situasi ini menuntut pendekatan yang lebih adaptif agar pembiayaan rumah bisa lebih tepat sasaran. Dengan memahami kebiasaan dan kebutuhan wiraswasta, BTN dapat lebih efektif dalam memberikan layanan dan dukungan.
Oleh karena itu, KPP tidak hanya sekedar menawarkan pembiayaan, tetapi juga mencoba mengakomodasi cara hidup pelaku usaha yang beragam. Keselarasan antara rumah dan tempat usaha menjadi prioritas utama dalam skema ini.
Komitmen BTN Terhadap Keberlanjutan dengan Rumah Rendah Emisi
Selain memberikan akses pembiayaan bagi wiraswasta, BTN juga berkomitmen pada pengembangan rumah rendah emisi. Nixon menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan dalam setiap proyek yang dijalankan oleh institusi ini.
Program rumah rendah emisi adalah langkah proaktif BTN dalam mengurangi jejak karbon sektor perumahan. Melalui kolaborasi dengan pengembang dan startup yang berbasis inovasi, BTN menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu inisiatif menarik adalah penggunaan material daur ulang, seperti sampah plastik yang diubah menjadi bata dan paving block. Inisiatif ini tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga memperkuat kualitas bangunan yang dihasilkan.
BTN menargetkan pengembangan sekitar 150 ribu unit rumah rendah emisi hingga tahun 2029. Keberanian ini mencerminkan dedikasi BTN dalam menciptakan masa depan perumahan yang lebih berkelanjutan.
Program desain hunian yang lebih hemat energi dan air juga menjadi perhatian. Dengan inovasi seperti jendela yang lebih lebar dan atap yang lebih tinggi, rumah juga berfungsi lebih efisien dalam pemakaian energi listrik dan air, yang mengurangi tagihan sehari-hari.




