Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyatakan bahwa pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) tidak berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ia mengimbau agar masyarakat dan pelaku pasar tidak menghubungkan penurunan nilai rupiah dengan dinamika internal yang terjadi di BI.
Misbakhun menjelaskan bahwa pemilihan figur-figur baru di pos tersebut merupakan kompetensi penuh Gubernur BI yang diusulkan kepada Presiden. Menurutnya, isu tersebut tidak terkait satu sama lain dan harus dipisahkan untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih luas.
“Penggantian Deputi Gubernur Bank Sentral adalah kewenangan Gubernur. Tidak ada relevansinya dengan keadaan nilai tukar,” tegas Misbakhun saat memberikan keterangan di Gedung AA Maramis, Jakarta.
Pentingnya Uji Kelayakan bagi Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia
Komisi XI DPR RI telah menjadwalkan uji kelayakan calon Deputi Gubernur BI. Proses ini dimaksudkan untuk menilai kemampuan para calon dalam menjalankan tugas mereka di Bank Sentral.
Uji kelayakan ini dilangsungkan dalam dua sesi, masing-masing dilakukan pada Jumat dan Senin. Dalam sesi tersebut, setiap calon akan memaparkan visi dan misi mereka selama sekitar satu jam.
Setelah melakukan sesi tanya jawab, hasil dari uji kelayakan ini akan dilaporkan dalam rapat paripurna DPR pada hari Selasa. Dengan cara ini, diharapkan publik dapat memahami kemampuan calon-calon yang diusulkan.
Analisis Terhadap Nilai Tukar Rupiah dan Sentimen Pasar
Misbakhun menjelaskan bahwa meskipun nilai tukar rupiah mengalami penurunan nya hingga mendekati Rp17 ribu per dolar AS, fundamental ekonomi Indonesia masih terlihat kuat. Menurutnya, penurunan tersebut lebih dikarenakan sentimen pasar yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Dia berpendapat bahwa tekanan yang dialami rupiah bukanlah gambaran akurat dari kekuatan ekonomi nasional. Oleh karena itu, perlu upaya untuk memperkuat sentimen positif terhadap ekonomi Indonesia di kalangan investor.
Pernyataan tersebut menunjukkan keyakinan Misbakhun terhadap prospek ekonomi yang lebih baik di masa depan, meskipun tantangan saat ini mungkin terasa berat. Dengan memperkuat kepercayaan pasar, diharapkan nilai rupiah bisa kembali stabil.
Upaya Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Nilai Tukar
Dalam konteks menjaga stabilitas nilai tukar, Misbakhun meminta BI untuk tetap berupaya menjaga nilai rupiah di level moderat. Menurutnya, nilai tukar yang sehat adalah yang mencerminkan kekuatan nyata dari ekonomi Indonesia.
Dia menyatakan pentingnya BI mengatasi fluktuasi nilai tukar dengan kebijakan yang tepat agar tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar. Stabilitas ini menjadi crucial, mengingat Indonesia memiliki berbagai indikator ekonomi positif.
Hal ini juga mendesak BI untuk aktif dalam memberikan sinyal yang baik kepada pasar. Dengan cara ini, diharapkan pasar dapat melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang masih menarik, baik di sektor portofolio maupun sektor riil.
Indikator Ekonomi yang Menunjukkan Kekuatan Indonesia
Misbakhun menekankan bahwa Indonesia memiliki sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan kekuatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang rendah menjadi fokus utama dalam penilaian tersebut.
Dia mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia juga cukup kuat, ditambah lagi dengan neraca perdagangan yang menunjukkan surplus. Data ini selayaknya memberikan keyakinan kepada investor untuk tetap menaruh minat mereka di Indonesia.
Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 4,8% hingga 5% secara tahunan, negara ini memiliki daya tarik yang tidak bisa diabaikan. Ini menjadi tanda bahwa meskipun ada ketidakpastian global, Indonesia dapat tetap bertahan dan berkembang.
Di tengah tantangan dan ketidakpastian pasar, kepercayaan rakyat dan investor menjadi vital untuk memperkuat ekonomi Indonesia. Misbakhun mengajak semua pihak untuk melihat potensi yang dimiliki dan bekerja sama demi kemajuan ekonomi bangsa.




