Kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur telah menjadi isu serius yang mengkhawatirkan. Antara bulan Agustus dan September 2026, sebanyak 7.363,30 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar, dan area yang terdampak mayoritas berada di kawasan konservasi. Data ini diungkapkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyoroti urgensi penanganan masalah karhutla yang terjadi di wilayah tersebut.
Dalam laporan tersebut, Emil menjelaskan bahwa kebakaran tidak hanya melanda satu daerah saja, melainkan terjadi di tiga wilayah pengelolaan yang berbeda. Ia mencatat bahwa sekitar 79 persen dari total lahan yang terbakar berada dalam kawasan konservasi, sedangkan sisanya terjadi di Perum Perhutani dan Tahura Raden Soerjo.
Siklus kebakaran ini menunjukkan dampak negatif yang besar bagi ekosistem dan juga masyarakat sekitar. Terlebih lagi, lahan yang terbakar adalah area yang penting untuk keberlangsungan flora dan fauna serta memberikan kontribusi bagi kehidupan sehari-hari manusia.
Data Terbaru Mengenai Kebakaran Hutan di Jawa Timur
Emil mengungkapkan bahwa data dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur menunjukkan fakta mencolok tentang luas kebakaran, dengan konsentrasi lebih besar terjadi di kawasan konservasi. Dari total yang terbakar, 5.814,90 hektare berasal dari lima taman nasional dan wilayah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jatim.
Taman Nasional Baluran menjadi salah satu yang paling parah tertimpa kebakaran, mencatat luas kebakaran mencapai 2.970,05 hektare. Kebakaran yang terjadi di taman nasional ini tentunya berpotensi merusak habitat yang dilindungi dan mengancam spesies yang berada di dalamnya.
Selain itu, Emil juga menekankan bahwa Perum Perhutani Divre Jatim melaporkan kebakaran seluas 1.031,95 hektare di hutan produksi dan hutan lindung, yang merupakan 14 persen dari total keseluruhan kebakaran lahan. Penanganan untuk area ini sangat penting karena berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.
Upaya Penanganan Kebakaran Hutan yang Dilakukan Pemerintah
Emil menjelaskan bahwa untuk dua kawasan yang dibakar, kewenangan penanganannya dipegang oleh kementerian terkait. Dalam hal ini, mereka bekerja sama dengan kementerian kehutanan dan badan-badan pemerintah lainnya untuk melakukan penyidikan yang diperlukan.
Di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, tercatat 516,45 hektare lahan terbakar dalam dua bulan terakhir. Karena ini merupakan satu-satunya kawasan yang sepenuhnya berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, penanganannya menjadi tanggung jawab langsung mereka.
Emil menekankan bahwa upaya pencegahan dan penanganan karhutla perlu dilakukan secara terkoordinasi oleh berbagai instansi, mengingat sulitnya akses ke lokasi-lokasi tertentu yang terbakar. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam memadamkan api.
Strategi yang Digunakan dalam Penanganan Karhutla
Menurut Emil, lokasi kebakaran dibagi dalam dua kategori: yang bisa dijangkau dan yang tidak bisa dijangkau. Bagi lokasi yang tidak bisa dijangkau, strategi yang diterapkan adalah menciptakan sekat bakar guna mencegah api menyebar lebih luas.
Pada lokasi yang sulit diakses, petugas tidak bisa langsung memadamkan api, melainkan harus fokus pada penahanan titik api di tempat yang dapat dijangkau. Melalui strategi ini, diharapkan kebakaran tidak meluas ke daerah permukiman.
Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi fisik di daerah tinggi membuat penanganan api menjadi lebih kompleks. Untuk itu, petugas di lapangan harus berpikir kreatif dalam melakukan tindakan pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
Pentingnya Keberadaan Personel Terlatih dalam Penanganan Kebakaran
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memiliki 53 personel Manggala Agni dan Polisi Hutan untuk menangani masalah kebakaran, khususnya di kawasan Tahura Raden Soerjo. Mereka menjalankan tugas penyisiran teratur untuk mendeteksi tanda-tanda awal kebakaran dan melaksanakan pencegahan yang efektif.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur berkomitmen untuk memaksimalkan upaya pencegahan kebakaran dengan melibatkan para personel terlatih tersebut. Tindakan preventif dan pemeliharaan hutan diharapkan bisa mengurangi risiko terjadinya kebakaran di masa depan.
Emil menggarisbawahi pentingnya keselamatan personel yang terlibat dalam pemadaman kebakaran. Pastikan untuk tidak ada anggota yang menjadi korban dalam menjalankan tugas, sehingga para petugas bisa bekerja dengan aman dan fokus.








