Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat bahwa hingga 10 November 2025, sebanyak 18.614 UMKM terlibat sebagai penyuplai dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menjelaskan bahwa program ini diperkirakan dapat menyerap hingga 2,25 juta tenaga kerja, menunjukkan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja di sektor ini.
Melalui keterlibatan total sekitar 450 ribu UMKM yang berpartisipasi, program MBG menyediakan lapangan kerja dengan rata-rata antara satu hingga lima orang untuk setiap UMKM. Hal ini mencerminkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menanggulangi isu ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menurut Maman, dalam rapat kerja tersebut, potensi penyerapan tenaga kerja ini menjadi salah satu indikator keberhasilan program. Dengan banyaknya UMKM yang terlibat, pertumbuhan ekonomi di komunitas lokal diharapkan dapat meningkat secara bertahap.
Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis terhadap Perekonomian Lokal
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya tidak hanya fokus pada penyediaan makanan, tetapi juga berimpact luas terhadap perekonomian lokal. Dengan melibatkan banyak UMKM, program ini membantu meningkatkan pendapatan mereka melalui pesanan yang rutin. Hal ini sekaligus membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat di setiap daerah.
Melalui kemitraan antara UMKM dan badan usaha lainnya, pengembangan usaha menjadi lebih berkelanjutan. Pelatihan dan akses ke sumber daya yang lebih baik meningkatkan daya saing UMKM di pasar, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak investasi di masa depan.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan struktural di Indonesia. Dengan menyediakan kesempatan bagi masyarakat untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan, akan ada pengurangan signifikan terhadap ketergantungan pada bantuan sosial.
Kemitraan Strategis antara UMKM dan Badan Usaha Besar
Selain program MBG, Maman juga mengungkapkan bahwa realisasi kemitraan pasok selama tahun 2025 telah mencapai Rp238,7 miliar yang melibatkan 3.060 UMKM. Kerjasama ini terbentuk antara UMKM, perusahaan besar, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menciptakan sinergi yang bermanfaat bagi semua pihak.
Kemitraan ini memungkinkan UMKM untuk mendapatkan peluang pemasaran yang lebih luas, dan juga dukungan teknis dari perusahaan besar. Para pelaku usaha kecil mendapatkan pembelajaran dari pengalaman dan keahlian badan usaha yang lebih besar, sehingga meningkatkan kapasitas mereka.
Peningkatan kerja sama ini juga terasa di sektor yang lebih kecil. Melalui pendekatan bottom-up, banyak UMKM yang mampu meningkatkan kinerja mereka dan bersaing dengan lebih efektif. Ini adalah contoh konkret bahwa kolaborasi dapat membuka jalan bagi peningkatan daya saing.
Peran Entrepreneur Hub dalam Mengembangkan Wirausaha
Entrepreneur Hub telah menjadi platform penting dalam mengembangkan ekosistem bisnis bagi para wirausaha. Dengan menghubungkan mereka dengan akses terhadap pembiayaan, pelatihan, dan mentor bisnis, wirausaha baru terbantu dalam perjalanannya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi pelaku usaha.
Dalam situasi di mana banyak wirausaha mengalami kendala, keberadaan platform ini memberikan harapan baru. Sebanyak 14.084 wirausaha sudah terhubung dalam ekosistem ini, menunjukkan antusiasme yang besar di kalangan pelaku usaha untuk belajar dan berkembang.
Kemudahan akses informasi dan jaringan juga menjadi salah satu keunggulan dari Entrepreneur Hub. Melalui berbagai program pelatihan dan workshop, para wirausaha dapat berbagi pengalaman dan menemukan cara baru untuk mengatasi tantangan yang mereka hadapi.
Komitmen Pemerintah dalam Meningkatkan Infrastruktur untuk UMKM
Pemerintah menunjukkan komitmennya untuk mendukung UMKM dengan alokasi 30 persen infrastruktur publik. Kebijakan ini mencakup tempat istirahat, bandara, terminal, pelabuhan, dan stasiun. Dengan demikian, UMKM memiliki akses yang lebih baik dalam memasarkan produk dan layanan mereka kepada masyarakat luas.
Hingga kini, tercatat ada 406 unit infrastruktur publik di seluruh Indonesia, di mana total area komersial mencapai 1,09 juta meter persegi. Dari jumlah tersebut, 471.623 meter persegi dialokasikan khusus untuk UMKM, menunjukkan dukungan konkret bagi pelaku usaha lokal.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 7.715 UMKM telah memanfaatkan fasilitas tersebut. Dengan tingkat keterisian sebesar 60,59 persen, hal ini membuktikan keberhasilan penempatan area untuk UMKM dan dampaknya terhadap pertumbuhan usaha kecil.




