Jakarta, Indonesia – Memiliki tanah di Jakarta saat ini merupakan hal yang十分 susah, terutama di kawasan premium yang harga tanahnya sangat tinggi. Di Sudirman Central Business District (SCBD), misalnya, harga lahan bisa mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta per meter persegi, angka yang mencengangkan bagi banyak orang.
Namun, sekitar 140 tahun yang lalu, seorang pria bernama J.M.L. Bohl mampu mengubah nasibnya melalui perjuangan dan kerja keras. Ia berhasil membeli ribuan hektare tanah di Batavia, yang saat ini kita kenal sebagai Jakarta, dan menjadi salah satu tuan tanah terbesar di era Hindia Belanda.
Berdasarkan arsip harian yang ada, Bohl tiba di Batavia pada tahun 1864 saat usianya baru 16 tahun. Meski kemudian dikenal sebagai sosok kaya raya, ia memulai kariernya sebagai pegawai biasa di perusahaan perdagangan.
Penghasilannya yang didapat dari bekerja tidak dihabiskan segera, melainkan ditabung untuk membeli tanah. Langkah ini menjadi keputusan penting yang mengubah seluruh arah hidupnya.
Pertumbuhan Kekayaan Sebagai Tuan Tanah di Jakarta
Berdasarkan catatan dalam Handboek voor Cultuur en Handels-ondernemingen in Nederlandsch-Indië, Bohl memiliki tanah seluas 1.474 bau di Senayan, yang setara dengan sekitar 1.000 hektare. Tanah tersebut digunakan untuk sawah dan perkebunan kelapa yang membuatnya memiliki nilai sekitar 36.000 gulden.
Tidak berhenti di situ, Bohl juga berhasil mengakuisisi tanah lain di Matraman. Menurut Adresboek van Nederlandsch-Indië, luas tanahnya di sana mencapai 502 bau, yang berarti sekitar 400 hektare.
Secara total, Bohl menguasai sekitar 1.400 hektare lahan di Batavia. Kini, sebagian besar lahan tersebut telah berubah menjadi kawasan dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Kekayaan yang diperoleh dari bisnis pertanahan membawa kehidupan Bohl jauh lebih glamor dibandingkan saat ia pertama kali tiba di Batavia. Ia mampu membangun rumah besar yang menjadi simbol status sosialnya.
Kehidupan Sehari-hari dan Kegiatan Politik J.M.L. Bohl
Bohl tidak hanya dikenal karena kekayaannya, tetapi juga kehidupannya yang cenderung tertutup. Masyarakat Batavia mengenalnya lebih sebagai pemilik tanah yang besar daripada sebagai sosok publik. Ia jarang bersosialisasi dan lebih memilih menjaga privasinya.
Selain menjadi tuan tanah, Bohl juga terjun ke ranah politik dan pernah mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mewakili wilayah Meester Cornelis. Dalam kapasitas ini, pengaruhnya di Batavia semakin besar.
Kekayaan dan posisinya di pemerintahan kolonial memberikan Bohl daya tarik dan pengaruh yang kuat. Walaupun ia tidak banyak muncul di hadapan publik, keberadaan dan keberhasilannya tetap memberikan dampak signifikan dalam sejarah Batavia.
J.M.L. Bohl meninggal pada 18 Juni 1920 setelah menjalani operasi usus buntu di rumah sakit. Komplikasi yang dihadapinya, termasuk gagal ginjal, menandai akhir dari kehidupan seorang tuan tanah besar.
Peninggalan dan Warisan J.M.L. Bohl di Jakarta
Kepergian Bohl menandai berakhirnya dominasi pribadi atas tanah-tanah luas yang ia miliki di Senayan dan Matraman. Setelah kematiannya, banyak arsip kolonial yang mencatat bahwa aset-aset tersebut diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda.
Meskipun demikian, nama J.M.L. Bohl tetap hidup dalam ingatan sebagai salah satu tuan tanah terbesar di Batavia. Ironisnya, tanah yang ia beli dengan susah payah dari hasil menabungan kini menjadi lokasi paling mahal dan strategis di Jakarta.
Kawasan seperti Senayan, SCBD, dan Matraman kini menjadi ikon ekonomi dan komersial yang paling menguntungkan. Keberhasilan Bohl menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang pentingnya berinvestasi dan memanfaatkan peluang yang ada.
J.M.L. Bohl bukan sekadar tokoh sejarah; ia adalah simbol dari ketekunan dalam mengubah nasib. Selalu ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah hidupnya.









