Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, baru-baru ini memberikan analisis terhadap tingkat inflasi yang terjadi di negara-negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia. Ia mencatat bahwa inflasi Singapura hanya berada di angka 0,6 persen, sementara Malaysia tercatat 1,2 persen pada bulan Agustus 2025.
Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya permintaan yang rendah di kedua negara tersebut. Secara umum, angka inflasi yang rendah di bawah 1,5 persen dianggap tidak ideal karena dapat menjadi indikasi dari lemahnya perekonomian.
Risiko Rendahnya Inflasi di Singapura dan Malaysia
Dalam konferensi pers yang diadakan di Kementerian Keuangan di Jakarta, Purbaya menjelaskan bahwa inflasi yang rendah dapat mengindikasikan bahwa masyarakat tidak mampu mengeluarkan uang untuk konsumsi. Dalam kondisi tersebut, perekonomian dapat menghadapi risiko stagnasi. Untuk itu, perlu ada upaya dari pemerintah untuk mendorong permintaan agar ekonomi dapat tumbuh lebih baik.
Beliau menyebutkan, “Inflasi Singapura 0,6 persen itu sangat tidak bagus. Ini menunjukkan bahwa ada masalah serius dalam permintaan konsumen.” Selain itu, inflasi Malaysia yang berada di angka 1,2 persen juga dianggap kurang memuaskan, meskipun sedikit lebih baik dibandingkan Singapura.
Purbaya mengingatkan bahwa inflasi yang ideal menurut konsensus ekonom global berada dalam kisaran 1 sampai 3 persen. Ini merupakan angka yang diharapkan agar perekonomian tetap bergerak dan tidak terjebak dalam kondisi deflasi.
Pencapaian Inflasi yang Stabil di Indonesia
Dalam konteks ini, Purbaya membandingkan inflasi Indonesia yang tercatat sebesar 2,3 persen dengan kedua negara tersebut. Ia mengklaim bahwa inflasi di Indonesia saat ini berada di posisi ideal, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ia menjelaskan bahwa “Inflasi kita saat ini stabil di level 2,3 persen, yang merupakan level yang ideal untuk pertumbuhan ekonomi.” Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia relatif lebih baik dibandingkan negara tetangga.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi tahunan di Indonesia pada bulan Agustus 2025 mencapai 2,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,51. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan yang sehat dalam aktivitas ekonomi di Indonesia.
Purbaya menambahkan, “Ini merupakan pencapaian yang baik, dan kita harus terus mempertahankan momentum ini agar tetap berada di jalur pertumbuhan.” Stabilitas inflasi yang baik ini sangat penting untuk memberikan kepercayaan kepada investor dan pelaku bisnis di dalam negeri.
Faktor Penyebab Deflasi di Indonesia
Meskipun Indonesia mengalami inflasi yang cukup stabil, BPS juga mencatat ada deflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan pada bulan yang sama. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa deflasi ini terutama disebabkan oleh penurunan harga dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Salah satu komoditas yang berkontribusi signifikan pada deflasi adalah tomat dan cabai rawit.
Pudji menunjukkan bahwa “Komoditas penyumbang utama deflasi adalah tomat dan cabai rawit, masing-masing memberikan andil 0,10 dan 0,07 persen.” Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan makanan dapat memiliki dampak signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.
Mempertahankan kendali terhadap harga bahan makanan merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah jika ingin menjaga stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, penting untuk memastikan ketersediaan dan distribusi pangan yang baik agar tidak terjadi lonjakan harga yang merugikan masyarakat.
Pentingnya Kebijakan Ekonomi yang Tepat Sasaran
Purbaya menggarisbawahi bahwa kebijakan ekonomi yang tepat sasaran sangat diperlukan untuk menjaga inflasi agar tetap dalam kisaran ideal. Dukungan bagi sektor-sektor yang dapat membantu meningkatkan permintaan masyarakat juga harus diprioritaskan. Misalnya, sektor konsumsi dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan jika didukung oleh kebijakan yang mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang berfokus pada infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan juga dapat berkontribusi dalam menciptakan iklim ekonomi yang lebih sehat. Dengan kondisi yang lebih baik, masyarakat akan lebih percaya diri untuk berbelanja dan berinvestasi, sehingga mempercepat pemulihan ekonomi.
Secara keseluruhan, kondisi inflasi Indonesia yang lebih stabil dapat menjadi fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk terus menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.




