Ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan yang positif pada kuartal keempat tahun 2025. Kenaikan sebesar 0,1% ini menjadi berita baik bagi negara tersebut, yang sebelumnya terjebak dalam kontraksi negatif pada kuartal ketiga.
Selama kuartal ketiga, Jepang mencatatkan penurunan ekonomi sebesar -0,7%, yang menandakan risiko terhadap resesi teknis. Resesi teknis didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan negatif, sehingga hasil baru ini menjadi sinyal pemulihan.
Meskipun terdapat pertumbuhan, angka produk domestik bruto (PDB) ini ternyata lebih rendah dari yang diharapkan. Sebelumnya, banyak ekonom memprediksikan pertumbuhan yang lebih kuat, yaitu mencapai 0,4% selama tiga bulan terakhir tahun 2025.
Analisis Pertumbuhan Ekonomi Jepang pada Kuartal Terakhir 2025
Mengacu pada data yang dirilis, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pertumbuhan ini. Salah satunya adalah perbaikan dalam investasi bisnis, yang tumbuh 0,2%, dibandingkan dengan penurunan 0,3% pada kuartal sebelumnya.
Konsumsi swasta juga mencatat angka peningkatan yang minim, hanya 0,1%. Hal ini menunjukkan adanya tekanan biaya yang masih berlanjut, terutama berkaitan dengan harga makanan yang terus meningkat.
Pengeluaran pemerintah menunjukkan pertumbuhan yang stagnan, dengan angka 0,1% yang sama dengan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, perdagangan bersih tidak memberikan kontribusi berarti, dengan penurunan dalam ekspor dan impor yang masing-masing tercatat -0,3%.
Hambatan dan Perkembangan dalam Ekonomi Jepang
Pengaruh tarif dari Amerika Serikat yang dipatok pada 15% mulai menunjukkan penurunan secara bertahap. Namun, ketegangan diplomatik dengan China masih menjadi isu yang belum terpecahkan dan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Jepang.
Di awal tahun, Bank Sentral Jepang (BOJ) telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Proyeksi terbaru menyebutkan angka pertumbuhan sebesar 0,9%, naik dari 0,7% sebelumnya.
BOJ memperkirakan adanya pertumbuhan moderat di masa mendatang, didorong oleh pemulihan ekonomi negara-negara lain. Ini adalah sinyal positif bagi Jepang yang berharap untuk bangkit dari ketidakpastian global.
Masalah Inflasi di Jepang dan Dampaknya
Inflasi di Jepang menunjukkan penurunan signifikan menjadi 2,1% pada bulan Januari, angka terendah sejak Maret 2022. Meskipun demikian, harga masih tetap di atas target inflasi 2% Bank Sentral Jepang selama 45 bulan berturut-turut.
Ketidakstabilan harga ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi konsumen yang merasakan dampak langsung dari kenaikan biaya hidup. Inflasi yang melampaui target dapat menyebabkan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pihak BOJ kini menghadapi dilema dalam menjalankan kebijakan yang mendukung pertumbuhan tanpa menambah tekanan inflasi. Langkah-langkah yang diambil untuk mendorong pertumbuhan harus diimbangi dengan pengendalian inflasi agar tidak mengganggu pemulihan ekonomi.




